Tadi barusan beberapa wartawan Indonesia
datang ke istana kepresidenan. Gue persilahkan, dan gue hidangkan makanan spesial
Mumetnesia. Apa itu?
.
Iya. ubi rebus.
.
Ubi rebus, yang dalam bahasa jawanya telo
godhok, adalah makanan yang nggak pernah bohong.
.
Abis makan telo godhok, ato telo goreng,
mau nggak mau lo bakal lebih sering kentut. Dan kentut lo juga bau banget. Iya.
Sampe orang di sekitar lo nutup mata.
.
Nggak. Maksud gue nutup telinga. Eh enggak
maksud gue nutup aurat.
.
Nah itu baru benar.
.
Benar-benar membingungkan.
.
Oke. Jadi abis makan telo kentut lo busuk,
itu sebuah fakta, mutlak, tak terbantahkan, dan jujur.
.
So, karena telo adalah makanan yang jujur,
maka gue menjadikan telo makanan pokok bagi rakyat Mumetnesia. Harapan gue
adalah supaya rakyat gue pada jujur-jujur semua sehingga mampu membangun negeri
idaman yang unggul dari berbagai macam aspek!
.
#Whoa!
#ProkProkProk!!! :D
.
Seorang wartawati cantik pun mulai
mewawancarai gue.
.
"Selamat pagi pak Ken. Bisa kita mulai
ya. Bapak siap?"
.
"Ooh selalu siap," kata gue
sambil menata celana gue yang terasa mulai nggak nyaman.
.
#Plakk
.
"Mungkin bapak sudah mendengar
pemberitaan di media mengenai Gayus yang sempat membuat geram masyarakat dan
jajaran penegak hukum lantaran..."
.
"Gayus???" Gue mencoba
mengingat-ingat nama itu, sambil menggaruk-garuk kepala mbak-nya. Nggak! Kepala
gue sendiri!
.
"Oh Gayus yang pernah maling ayam tapi
malah kepleset kecebur got itu ya mbak??"
.
"Bukan pak. Gayus Tambunan mafia pajak
itu lho pak. Dia masih dalam masa tahanan tapi entah bagaimana bisa keluyuran
padahal..."
.
"Oh Gayuss? Iya iya saya inget! Iya Gayus
itu anak nakal emang mbak. Suka keluyuran. Kalo disini ada anak nakal yang suka
keluyuran, saya perintahkan ibu bapaknya untuk mengandangkannya saja. Daripada
menyusahkan banyak orang dan malu-maluin negara."
.
"Oh begitu ya pak?" Mbaknya
mengernyitkan kening.
.
"Iya mbak. Serius. Eh. Silakan mbak
dimakan dulu hidangan spesialnya," gue mempersilahkan.
.
Mbaknya dan mas kameramen pun makan dengan
mimik muka yang aneh. Mereka mengunyah makanan seperti mengunyah obat nyamuk.
Kayak nggak pengen telo itu nyentuh lidah. Jadi cepet-cepet ditelen dan minum
banyak-banyak.
.
Gue baru inget kalo telo-nya tadi
ketumpahan garem sekilo. Tapi udahlah. Biarkan yang muda banyak makan garam,
karena menurut peribahasa yang tua-lah yang udah lebih banyak makan garam duluan.
.
"Oke pak. Selanjutnya, warga negara
Indonesia yang mendengar pemberitaan mengenai Gayus keluyuran makan di restoran
kan pastinya geram dan marah ya pak. Dan tentunya bertanya-tanya mengapa hukum
bisa setumpul itu. Bagaimana dengan warga Mumetnesia saat mendengar pemberitaan
ini pak?"
.
"Haha. Mbak ini lucu. Jangan samakan
di Indonesia sama di Mumetnesia mbak. Di Indonesia orang-orangnya mudah
kebakaran jenggot padahal nggak adajenggotnya sebab dicukur tigahari sekali.
.
Di Mumetnesia orangnya slow-slow mbak.
Ngeliat tahanan jalan-jalan di restoran, di mall-mall, nonton pertandingan
tenis ato bola, itu mah biassa!
.
Malahan diajak poto-poto. Tapi abis itu
pada ngasih ucapan: selamat menempuh hidup baru ya..."
.
"Hah?? Kok bisa gitu pak?"
.
"Iya. Karena di negara saya ini mbak,
para koruptor dan mafia pajak itu emang diberi kesempatan untuk jalan-jalan
sebelum dieksekusi."
.
"Oh. Eksekusi macam apakah yang sudah
diberlakukan di Mumetnesia pak? Apakah sama seperti hukum potong tangan di Arab
atau bagaimana?"
.
"Potong tangan? Haha. Mau potong
tangan ato potong bebek angsa nggak bakalan memberikan efek jera mbak! Soalnya
jaman sekarang orang bisa menggelapkan uang tanpa menggunakan kedua tangannya
sama sekali. Jadi ya mulut yang ngomong. Ngomong ke si ini ke si itu. Suruh
begini suruh begitu. Dijanjiin ini dijanjiin itu. Bahasa simple-nya sih
disuap!"
.
"Lalu?"
.
"Lalu, hukuman yang sudah berlaku
disini adalah Go to the Jungle."
.
"Apa itu pak?"
.
"Go to the jungle ato diasingkan ke
hutan adalah hukuman yang tepat. Iya. Jadi dengan di asingkan ke hutan seorang
diri dan berteman dengan monyet-monyet itu saya yakini mampu memberikan efek
jera.
.
Misalnya nih. Si Gayus mo keluyuran, nggak
bisa mbak! Keluyuran kemana? Lha wong sekelilingnya cuma hutan belantara.
.
Mo nyuap penjaga lapas? Nggak bisa! Lha
wong penjaga lapasnya monyet ama gorila. Disuap pake duit? Nggak paham! Pake
pisang? Pisang darimana? Orang manjat pohon aja gayus nggak bisa!
.
Ato kalaupun gayus bisa manjat pohon, dapet
pisang, berapa banyakkah pisang yang mampu meluluhkan hati si gorila agar mau
menunjukkan jalan keluar dari hutan pada si gayus???"
.
Tiba-tiba bunyi tak merdu menyela
percakapan kita.
.
Thuttt!!
.
"Eh suara apa itu mbak?"
.
"Nggak tau pak suara apaan."
.
"Mbak pasti kentut ya? Hayo ngaku.
Mbak habis makan 'makanan kejujuran'. Mbak nggak bisa bohong. Kalo di Indonesia
mbak bisa bohong, tapi kalo disini mbak nggak bisa," Kata gue menyudutkan
si mbak.
.
"Iya sih Pak. Maaf. Si mbak
menundukkan kepala sambil malu-malu. Tapi nggak bau amat kan pak?"
.
"Ooh enggak. Tenang aja," kata
gue. Padahal bulu idung sama paru-paru gue serasa mo rontok!
.
Untung lo cantik! Kalo enggak udah gue usir
lo! Gerutu gue dalam hati.
.
"Baik. Lalu mengenai pemindahan gayus
dari Lapas Sukamiskin ke Lapas Gunung Sindur yang diyakini tingkat
pengamanannya lebih ketat, apakah menurut pak Ken itu efektif?"
.
"Nggak! Sama aja mbak. Dimanapun
cecunguk model gayus itu berada, selama dia masih berinteraksi dengan manusia
maka selama itu pula dia bisa menyuap."
.
"Jadi menurut bapak, kemana gayus
harus dibawa?"
.
"Ya itu tadi. Bawa ke Mumetnesia, biar
saya kirim ke hutan. Di hutan dia nggak bisa nyuap siapa-siapa, karena nggak
bisaberinteraksi dengan siapa-siapa. Kecuali monyet! Iya! Biar dia belajar dulu
bahasa monyet. Uuk aak uuk aak! Kayak gitu."
.
"Bapak sepertinya bisa bahasa monyet.
Bapak pasti penyayang binatang dan sering berkunjung ke kebun binatang."
.
"Nggak mbak."
.
"Terus?"
.
"Saya mantan monyet."
.
"Oke. Pertanyaan terakhir. Buat dua
orang petugas sipir Lapas Sukamiskin yang telah melakukan pelanggaran prosedur
pengantaran keluar tahanan, sanksi apa yang tepat menurut bapak?"
.
"Pecat. Bawa kesini. Suruh ngasih
makan monyet!"
.
"Baik. Terima kasih pak atas waktunya.
Maaf kalau mengganggu waktunya. Saya mau pamit dulu. Selamat malam, selamat
melanjutkan aktivitas."
.
"Aktivitas saya abis ini tidur kok
mbak. Eh, mbaknya nggak nginep disini aja? Udah malem lho. Besok pagi aja
pulang. Istana ini kan luas. Lagipula kamar tamu banyak."
.
Kamar gue juga nganggur. Gue lagi
sendirian. Gue mo ngomong gitu kok sussahh! Dan...
.
Thuttt!!!
.
"Ohh iya! Saya lupa mbak. Kamar
tamunya sedang penuh semua. Banyak tamu dari negara lain sedang berkunjung.
Hati-hati di jalan ya." Gue cepet-cepet menutup pintu.
.
:v
-------
-------
ADA YANG MAU JADI WAKIL PRESIDEN
MUMETNESIA?
.
Oke. Ini tambahan dikit. Sayembara nih.
.
Ken Patih sedang mencari sobat muda (sobat
tua juga boleh) yang tertarik/bisa membuat tulisan bergenre seperti tadi.
.
Kamu, syarat:
.
1. Cewek/ cowok, pria/ wanita. Waria juga
boleh. Yang penting serius dan tulisannya bagus.
.
2. Umur bebas
.
3. Bernyawa. Iya. Soalnya gue males
berurusan sama yang beda alam.
.
4. Normal. Awas ya, kalo ntar lo bbm ato
inbox gue terus nanya "mau nggak pacaran sama gue" padahal lo cowok,
gue anggep lo nggak normal dan bakal langsung gue terima cinta lo. Oh nggak!
Maksud gue bakal langsung gue delcon! #keceplosan.
.
5. Bisa baca dan bisa nulis. Inget. Kita
calon penulis bukan pelukis, ya!
.
6. Hobi/suka membaca dan menulis. Iya. Lo
bisa membaca sama nulis tapi kalo nggak hobi ya percuma kelleus!
.
7. Menikah/ belum menikah.
.
8. Bagi wanita yang sudah menikah, nantinya
agak jaga jarak sama saya ya. Maksudnya suaminya agak dijauhkan dari saya.
Takutnya suami mbak suka sama saya, seperti pengalaman yang sudah-sudah.
#Uhhukk!
.
9. Berkepribadian kritis, kreatif, peka,
terbuka, menyenangkan, dan gokil.
.
Bagi yang memenuhikesembilan syarat di
atas, dan berminat silakan inbox Ken Patih atau BBM di 542C989F.
.
Terus ngapain? Tenang aja. Nggak gue ajak
nginep di rumah gue kok.
.
Nantinya lo akan gue ajak ber-partner untuk
mengelola FP Republik Mumetnesia (www.facebook.com/mumetnesia), yang dalam
jangka pendek atau panjang akan membukukan tulisan-tulisan yang telah
terkumpul, terposting, dan mendapat tanggapan positif dari para pembaca maya.
.
Dibayar nggak?
.
Tenang aja. Sudah pasti...
.
Sudah pasti ENGGAK!
.
Iya lah! Emang gue nenek lo apa yang punya
perusahaan!!??
.
Hoho. Tenang aja. Maksud gue gini. Tulisan-tulisan
seperti ini kalo udah banyak kan bisa diterbitkan. Kalo udah jadi buku, berdoa
aja semoga penjualannya bagus entah itu marketer-nya penerbit atau penulis
sendiri.
.
Entar hasilnya kita bagi berdua. Gimana?
Enak di elu sama gue kan, tong?
.
Sebenernya nggak cuma berdua sih. Soalnya
gue nggak membatasi berapa orang yang boleh gabung. Kita liat aja nanti...
.
Oke. Di awal tadi gue juga nyebutin bagi
yang tertarik/ bisa. Gimana kalo tertarik tapi nggak bisa?
.
Tenang aja. Dengan modal ketertarikan, asal
lo serius pengen bisa nulis, pasti bisa. Entar gue bantu.
.
Kalo yang bisa tapi nggak tertarik
bergabung? Okeh! Nggak papah. Itu artinya lo adalah rival gue men!
.
Oke. Ntar kita lihat bukunya siapa yang
terbit duluan. Ato yang terbit dan bestseller duluan! Gue jamin...
.
Buku lo duluan!
.
>.<
.
Enggak enggak. Harus optimis yak. Dan bukan
mana yang terbit duluan ato yang bestseller duluan, tapi mana yang lebih
bermakna dan menginspirasi dunia!
.
#Iyeee!!!
#ProkProkProk^_^
.
So singkatnya, lo yang punya karakter
tulisan sama kayak gue, yuk bikin buku.Udah pernah denger kan ada satu buku
yang ditulis oleh dua penulis ato lebih?
.
I'm waiting you, gaes. Jangan kebanyakan
tawuran, minum, judi, main perempuan, apalagi korupsi.
.
Tawuran cuma bikin muke lo bonyok dan gigi
lo rontok. Kalo elu ompong sumpah nggak ada cewek yang bakal naksir ama lo!
.
Minum cuma bikin lo kembung. Judi cuma
bikin uang di dompet abis dan nenek lo kritis. Main perempuan cuma bikin pabrik
sabun bangkrut. Terus, korupsi cuma bikin lo di penjara.
.
Di penjara, cuma bikin lo apa?
.
Iya. Bisa jalan-jalan.
.
So, mari menciptakan sesuatu yang positif,
inovatif, dan lalala.
.
:v
.
DamaiNegeriku! Gue Ken Patih, selamat
malam!
.
Mumetnesia, 23 September 2015.
©Ken Patih

No comments:
Post a Comment